Minggu, 24 Juli 2011

-secuil kisah masyarakat di kampungku- (part 1)


Siang itu tanpa direncanakan akhirnya aku duduk juga di bis rombongan menuju Ponorogo. Sekalian menghilangkan penat, berharap setelah pulang halaman nanti ku bisa mendapat pencerahan, membersihkan kotoran2 yang menempel di hepar...ck.ck...opo tho......(lagek mumet neng solo, menghadapi masalah sing gag penting blazz!!)

Di bangku baris ke tiga, aku dan bulek duduk bersebelahan. Asyik menikmati perjalanan sambil sesekali bercerita ngalor ngidul. Menanyakan studiku, kabar keluarga, kabar adik di ma'had, cerita mbak'ku yg uda mulai nyidam macem2 dan cerita masyarakat di kampung halamanku...

Sampai ketika perenunganku mulai muncul, saat bulek tengah bercerita tentang kondisi masyarakat di kampungku. Saat ini masyarakat di tempat kelahiranku sedang mengalami gagal panen. Puluhan hektar padi yang seharusnya bulan ini memasuki masa panen, tapi harus didahului oleh hama2 nakal yang tanpa dosa memanen padi2 mendahului para petani itu.

Aku memang asli anak desa, di kampungku sana mayoritas penduduknya adalah petani. Denyut kehidupan mereka bergantung pada panen yang biasanya dirayakan tiap 4 bulanan. Yang sebelumnya harus mereka lalui dengan kerja keras memeras keringat, berpanas-panasan, mulai shubuh hingga matahari kembali terbenam, mereka habiskan di sawah mereka.

Bahkan ada beberapa keluarga yang tidak mempunyai lahan, sehingga mereka harus beerja di lahan orang lain. Bayangkan ketika memang hanya sawah yang mereka andalkan untuk mencukupi ebuthan keluarga. Musim panen kali ini kebanyakan sawah sedang dilanda gagal panen akibat hama wereng. Aku tak bisa bayangkan apa yang akan mereka gunakan selanjutnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Belum lagi kerugian-kerugian yang mereka derita, tentu tidak sedikit. Biaya yang mereka keluarkan mulai dari proses pembajakan sawah hingga pemberian pupuk dan pengairan, pasti nominal yang besar, dan saat ini mungkin mahfudzot "man yazro' yahsud" secara denotasi sudah tidak lagi benar, karena nyatanya mereka menanam tapi tidak bisa menikmati hasil panennya, dan harus terpaksa merelakan hasil panennya untuk dimakan hama2 itu. Sungguh kasihan...

Padahal kan seharusnya masa panen itu seperti hari raya kedua bagi penduduk kampung. Masa panen adalah masa suka cita. Masa anak-anak kampung berbondong-bondong ke sawah dan berlomba menaikkan layang-layang terindah –ataupun bermain kelahi gulat di tumpukan jerami. Tapi kini yang dijumpai adalah raut-raut kesedihan dari para petani padi itu, dan mereka adalah para tetanggaku sendiri..! Ikut terhanyut dalam cerita bulekku di bagian ini......

Ingin rasanya segera kembali ke masyarakat, melakukan perubahan di desaku, .......dan tentu saja semampuku.
-----------------------------------------------------------------------
(Bersambung ya...)


Selasa, 19 Juli 2011

Sejarah Perkembangan Ilmu Falak Pra dan Pasca Islam

Oleh; Imam Labib H.R*.

Pendahuluan.

Pada bulan Agustus 2007, di Peru telah ditemukan pecahan benda luar angkasa yang diduga oleh para ahli sebagai sisa dari pecahan batu meteor yang jatuh ke dalam bumi. Sehingga memberikan bekas lobangan tanah berdiameter 30 meter dengan kedalaman 6 meter. Diperkirakan juga pada tahun 2029, bumi akan terancam dengan jatuhnya benda asteroid yang terlepas dari orbitnya dan akan menggoncangkan belahan bumi yang kejatuhan benda tersebut dengan gempa berskala 5.0 richter.

Hal-hal yang demikian tidak bisa terketahui oleh para ahli secara pasti tanpa adanya seperangkat ilmu pengetahuan yang mempelajari secara ilmiah tentang seluk beluk peredaran benda-benda luar angkasa yang keluar dari wilayah bulatan bumi dan udara yang melindunginya (atmosfer). Ilmu tersebut masyhur dengan sebutan Ilmu falak atau Astronomi. (lihat; Sabahah Fadha'iyyah Afaq Ilmil Falaq, Prof.Dr Muhammad Ahmad Sulaiman).

Dalam perkembangannya, ilmu falak (astronomi) dimulai dari zaman Babilonia, Mesir kuno, China, India, Persia, dan Yunani. Sudah ada pembahasannya tersendiri bersamaan dengan perkembangan Ilmu Nujum (Astrologi). Dan mereka memiliki gaya serta ciri khas masing-masing dalam mengamati serta meneliti akan benda-benda luar angkasa tersebut (bumi, matahari, bulan dan bintang). Bahkan dalam Islam sendiri tanda-tanda akan adanya astronomi sudah diawali ketika Nabi Ibrahim As. sedang mencari Tuhan-nya. Ia sendiri senantiasa mengawasi dan mengamati benda-benda luar angkasa seperti; matahari, bulan, dan bintang kecil di langit untuk menyakinkan dirinya akan siapa Tuhannya?. Akan tetapi pada zaman itu pengamatan tersebut belum bisa dikatakan sebagai hasil dari ilmu pengetahuan karena belum ada penelitian secara ilmiah hanya sebatas pengetahuan yang ditunjukkan khusus oleh Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim As.; “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami yang terdapat di langit dan di bumi. Dan Kami memperlihatkannya agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata; “saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata; “Inikah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata; “sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata; “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata; “hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. (QS. Al-An’am: 75-78).

Ilmu Falak Pra Islam.

Jika Yunani dan Romawi dikatakan sebagai pewaris ilmu astronomi dari bangsa Babilonia dan Mesir kuno, maka Islam tanpa ada keraguan sama sekali, juga menerima warisan akan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dari bangsa Yunani dan Romawi. (Ilmu Al-Falak wa al-Taqwiym; Dr. Muhammad Bashil Al-Thoiy).

Astronomi dan antropologi sudah dikenal semenjak bangsa Babilonia (Irak kuno) dengan mengamati rasi-rasi bintang. Dimana perbintangan tersebut menurut bangsa Babilonia sebagai petunjuk Tuhan yang harus di pecahkan. Bahkan pada zaman tersebut, manusia lebih banyak menggunakan rasi bintang untuk meramal kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga ilmu ramal (astrologi) lebih maju dan lebih diminati dibandingkan dengan astronomi itu sendiri. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan mereka tetap menggunakan ilmu astronomi guna membantu kehidupan mereka sehari-hari dalam hal penentuan musim, arah, pergantian hari dan bulan. Bahkan pada masa itu sudah mengalami perkembangan untuk melihat kapan terjadinya gerhana matahari atau bulan dengan petunjuk rasi bintang. Sehingga bangsa Babilonia memberikan sumbangan yang sangat penting sekali karena mereka bisa memunculkan tabel-tabel kalender tentang pergantian musim, waktu, bulan, gerhana dan pemetaan langit (observational tables).

Pada zaman ini, mulai ada penetapan waktu dalam satu hari yaitu 24 jam. Satu jamnya= 60 Menit dan satu menitnya= 60 detik. Ketika itu masyarakat Babilonia menyebutnya sebagai hukum Sittiyny, yaitu hukum per enam puluh. Karena mereka menganggap bahwa keadaan bumi adalah bulat dan berbentuk lingkaran yang memilki 360 derajat dan pembagiannya habis dengan 60 (Muhîtu’l ardh atau muhîthu’l falak). (Lihat; Tarîkhu’l ‘ulûm ‘inda’l Arab, Ali Abdullah Faris dan Ilmu’l Falak wa’t Taqwîm; Dr. Muhammad Bashil Al-Thoiy).

Kemudian untuk peradaban Mesir kuno, mereka menyakini bahwasanya bintang keseluruhannya hanyalah berjumlah 36 bintang dan masing-masing memiliki dewa penjaga dan setiap dewa tugasnya menjaga bintang tersebut selama 10 hari untuk setiap tahunnya yang menurut mereka setahunnya hanya berjumlah 360 hari. Sebenarnya mereka juga mempercayai, bahwasanya jumlah hari dalam setahun berjumlah 365 hari. Akan tetapi mereka berpendapat bahwasannya 5 hari selebihnya dijadikan sebagai hari kebahagiaan bagi mereka sehingga tidak masuk hitungan hari.

Bangsa Mesir kuno dinilai kurang begitu memperhatikan kajian seputar perbintangan atau benda-benda luar angkasa. Akan tetapi bangsa ini memberikan peninggalan yang sangat monumental yaitu dengan diciptakannya jam matahari (mizwalah) dan sebagai tanda penanggalan munculnya bintang sirius yang muncul sekitar tanggal 19 juli s.d. bulan agustus atau ditandai dengan banjirnya sungai nil.

Pada abad ke-6 SM (640-562 SM) seorang filusuf Yunani Thales yang dianggap sebaga
i seorang pelopor Astronomi Yunani kuno berpendapat bahwa bumi merupakan sebuah dataran yang sangat luas. Kemudian muncullah seorang filusuf matematika yaitu Phythagoras yang lahir di sebelah selatan Italia tahun 580 SM dan meninggal 500 SM. Ia berpendapat bahwa peredaran waktu itu terikat dengan kebiasaan dan gerakan secara alami. Begitu juga yang dialami oleh bintang, ia bergerak karena ada ikatan kebiasaan dan gerakan alam. Sehingga dalam kesempatan itu ia berani mengungkapkan pendapatnya dengan mengatakan bahwa bumi itu bulat. Dan bulan itu merupakan bagian tubuh yang kuat yang beredar dengan sendirinya seperti juga bumi.

Ungkapan yang dikemukakan oleh Thales dan Phythagoras di bantah oleh Aristarchus pada abad 3 SM. Ia mengemukakan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Mataharilah yang merupakan pusat alam semesta karena bukan ia yang mengelilingi bumi, namun bumilah yang berputar mengelilingi matahari (Heliosentris). Hal ini juga diungkapkan oleh Aristhoteles (384-322 SM) bahwasanya bintang 5 selain Bumi (Merkuri, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus) juga beredar dan bergerak bersamaan secara terikat dan teratur mengelilingi matahari. Begitu juga seperti pendapat Nicholas Copercius (w.1543 M), ia menuturkan; planet dan bintang bergerak mengelilingi matahari dengan orbit lingkaran (da’iry) dan Johanes kepler (w.1630 M) juga memberikan pendapatnya tentang benda luar angkasa yang beredar mengelilingi matahari dan memilki orbit berbentuk elips (Ihlijiy).

Sebenarnya, kemunculan ilmu astronomi pada masa Yunani ini juga timbul bersamaan dengan ilmu astrologi sebagai warisan-warisan pengetahuan dari bangsa Babilonia dan Mesir kuno. Dari sini para filusuf Yunani memulai memikirkan dan mengamati akan peredaran gerak bintang atau benda-benda angkasa lainnya yang nampak dengan kasat mata.

Ilmu Falak Pasa Islam.

Pada hakekatnya ilmu falak yang berkembang dalam Islam, sebenarnya muncul dari ilmu perbintangan (astrologi) sebagai warisan dari bangsa Yunani dan Romawi. Karena pada saat itu kehidupan bangsa Arab berada di padang pasir yang sangat panas dan terbuka. Kehidupan mereka sering berpindah-pindah tempat. Apalagi di balik kehidupannya, mereka biasa bepergian jarak jauh untuk melakukan perdagangan ke negeri tetangga. Sehingga mereka membutuhkan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan tersebut.

Di saat permulaan risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw., Ilmu falak belum mengalami perkembangan yang signifikan. Karena pada saat itu umat Islam hanya disibukkan dengan jihad perang dan menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia. Sehingga aktifitas untuk mengkaji tentang astronomi sangat kurang sekali. Adapun jika ada, itu hanyalah sebatas pengetahuan-pengetahuan langsung yang diberikan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.. Namun belum ada kajian ilmiyahnya yang berdasarkan dari ilmu pengetahuan.

Sedangkan pada zaman itu, Dalam menentukan waktu salatnya, umat Islam sudah mendapatkan petunjuk secara langsung dan detail dari Allah Swt. tanpa adanya kajian secara ilmiyah terlebih dahulu. Sehingga aturan baku waktu salat tidak bisa berubah dan sifatnya tetap dan tidak berkembang walau zaman telah berubah (Qoth’i). “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang di tentukan waktunya atas orang-orang beriman”. (QS. An Nisa; 103). “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al Isra; 78).

Dalam menentukan waktu salat 5, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Waktu dhuhur itu dimulai dari tergelincirnya matahari tepat diatas bayang benda sampai bayang benda sama panjangnya dengan benda tersebut. Waktu ashar di mulai panjang bayang sama dengan bendanya sampai tenggelamnya matahari. Waktu maghrib di mulai dari tengelamnya matahari atau munculnya mega merah sampai hilangnya mega merah. Waktu isya’ mulai dari hilangnya mega merah sampai tiba waktu shubuh. Waktu shubuh dimulai sejak munculnya fajar shodiq sampai munculnya matahari kembali” (H.R. Muslim).

Setelah Islam menyebar sampai diluar Mekkah dan Madinah, mulailah para sahabat mengkaji akan khazanah ilmu falak dalam tinjauan Islam. Sehingga muncullah salah satu cabang Ilmu Astronomi (falak)--selain Ilmu Falak Ilmy--yaitu Ilmu Falak Syari yang mana metode pembahasan dan perkembangannya memacu pada kontrol al-Quran dan Sunah Rasul.

Kajian tentang falak sudah dimulai pada masa pemerintahan Bani Umayyah yaitu tepatnya pada masa kekhalifahan Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan (W. 85 H/704 M). Ini dikarenakan adanya kecenderungan Khalifah akan ilmu pengetahuan yang berkembang. Oleh karenanya pada masa ini, terjadilah perubahan-perubahan yang mendasar, terutama pada perkembangan keilmuan untuk mengkaji ilmu pengetahuan (sains). Hal ini terbukti dengan banyaknya penerjemahan buku-buku yang berkenaan dengan astronomi, kedokteran dan kimia. (Lihat; Ilmu Al-Falak wa al-Taqwiym; Dr. Muhammad Bashil Al-Thoiy)

Akan tetapi dalam perkembangannya, ilmu falak Islam sebenarnya dimulai dari kekhalifahan bani Abbasiyah. Dimasa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur yang meletakkan kajian tersebut setelah Ilmu Tauhid, Fikih dan Kedokteran. Hal tersebut tidak terlepas dari peran serta dua peradaban kuno, yaitu; India dan Persia. Karena pada saat itu khalifah Abu Ja’far al-Mansur memerintahkan kepada Ibrahim bin Habib al-Fazari dan Umar bin Farhan at-Thabari untuk menerjemahkan berbagai buku tentang ilmu falak. Salah satunya Sind Hind yaitu buku yang membahas tentang ilmu matematika india di dalamnya terdapat metode dasar dalam perkembangan ilmu pengetahuan tentang astronomi terhadap peredaran planet dan bintang atau benda-benda angkasa lainnya.

Kemudian al-Mansur juga memerintahkan kepada Abu Yahya untuk menerjemahkan kitab al-Maqâlât al-Arba’ah karya Ptolemaeus yaitu berbicara tentang sistem perbintangan. Dari sini mulailah bermunculan para pakar Islam yang menggeluti bidang astronomi. Seperti;
Muhammad bin Ibrahim bin habib al Fazari dengan bukunya seputar astronomi yang di dalamnya dibahas juga tentang akidah, kitab Miqyas Li al Zawal, Zij ’ala Sinny al Arab dan Astrolabe (kitab seputar alat-alat astronomi model kuno).

Ya’qub bin Thariq (w. 179 H/796 M) yang telah berhasil menerjemahkan kitab Al-Arkindi dan Tarkibu’l Aflâk. Al Arkindi yaitu buku yang membahas tentang almanak perbintangan (Ephemeris) atau kalender astronomi berisikan tentang tabel-tabel yang menerangkan akan peredaran matahari, bulan dan bintang dalam garis orbit.

Pada masa khalifah Mansur ini, dana negara yang dikeluarkannya untuk membiayai pengembangan astronomi tidaklah sedikit, sehingga tidak heran jika hasil-hasil yang dicapai sangatlah memuaskan. Dan kajian ilmu falakpun tetap berlanjut serta mengalami fase kemajuan di masa-masa selanjutna.

Sedangkan kajian tentang astronomi Islam mencapai masa kejayaan dan keemasan ketika tampuk pemerintahan dipegang oleh Makmun bin Harun Al-Rasyid (w. 218 H/833 M) karena pada masa itu buku-buku tentang astronomi yang berbahasa Persia, India, Yunani banyak yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan di masa Makmun ini juga muncul para ahli astronomi yang terkenal seperti; Sind bin Ali, Ahmad bin Abdullah al Marwazi, Khalid bin Abdul Malik, Yahya bin Abi Mansur al Munajjim, Ali bin ‘Isy , Abu Ishak al Kindi, Ali bin al Buhtari dan Abdul Malik al Marwazi.

Selanjutnya di Abad seterusnya pengembangan ilmu falak di tubuh Islam masih tetap berlanjut hingga kini. Dan sudah mengalami perkembangan sesuai dengan ilmu pengetahuan, al-Quran dan Sunah.

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu siang dan malam” (QS. Ibrahim: 33)

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya; 33).

Penutup.

Dari sini bisa ditelusuri, bahwasanya ilmu falak Islam tidak dinafikkan lagi telah banyak mengadopsi astronomi dari peradaban sebelumnya; Babilonia, Mesir kuno, India, Persia, Cina, Yunani dan Romawi. Karena Astronomi (falak) dan ilmu Nujum (Astrologi) kedua-duanya berkembang secara bersamaan, walaupun bentuk dan karekteristiknya sangatlah berbeda.
Perkembangan ilmu falak Islam tidak hanya berhenti pada sisi teoritis normatif belaka yang berpedoman pada al-Quran dan Sunah, tetapi sudah terkombinasikan oleh ilmu-ilmu pasti, seperti; matematika, fisika, kimia dan biologi. Karena dalam mengkaji ilmu falak tidak terlepas dari ilmu-ilmu tersebut. Wallahu A’lam.[]

taken from Blog'y AFDA (Association of Falak Deep Analysist)

Sebuah Metamorfosa


Aku ingin menuliskan sebuah metamorfosis.... dan kamu harusnya juga! karena aku yakin hidup kita terlalu manis untuk dikenang. Bayangkan saat kita sudah tua nanti.... catatan-catatan yang mungkin kita anggap tak penting namun itu adalah bagian hidup indah ini. Yahh..meski yang kita tuliskan adalah pengalaman pahit misalnya... itu akan semakin membuat kita senantiasa bermuahasabah, apalagi ketika yang kita tuliskan adalah momen indahh, semuga semakin bisa bersyukur. Orang bilang itu adalah diary, bahkan ada yang hobinya menulis diary harian, sebenarnya itu sangat menarik..yahh sangat menarik! itulah lika-liku hidup kita. Dulupun aku sempat rutin bikin diary harian...tapi mungkin saat ini aku tidak punya cukup waktu untuk membukukan hikmah2 berharga itu. Mungkin hanya sebagian kecil yang bisa tergoreskan lewat pena ataupun keyboard di leppi kecil ini.

Teringat ketika beres2 diktat kuliah, aku nemuin sebuah tulisan, yang bikin aku senyum2 sendiri...hihiii,

Nanti kalu uda nyampe rumah, aku mau nyari buku orange itu, aku ingat disitu aku menuliskan beberapa tahapan metamorfosa hidupku...!! pasti indah bila dikenang.

Bahkan jika aku kumpulkan seluruh catatan hidupku pasti itu akan jadi sebuah buku yang sangat tebal sekali..hihi..

Gimana dulu pas masih balita, umur 2tahun uda ikut sekolah TK di rumah si mbah, hihii...,

pas duduk di bangku SD itu mungkin nakal2nya aku..tapi juga penuh dengan kreativitas!!,
Sering dicariin bapak disuruh makan dan bobok siang


Masa2 SMP yang penuh derita (kala itu aku hidup di penjara suci..!), tapi sekarang malah aku baru sadar, disitulah aku ditempa sekeras2nya..... hingga manfaatnyapun masih aku rasakan hingga sekarang.






SMA yang penuh dg perjuangan, dan tawa, tangis, gembira, sedihh...campur baur!!!
Momen Ramadhan di RS yang masih terekam jelas di ingatanku, mulai dari berangkat sekolah dari RS, makan, tidur, belajar di koridor RS depan Ruang ICU (kapan2 aku ingin menuliskan cerita ini), hingga perjuangan bersama My Amazing Mom!!!

Pasti akan sangat menarik jika dibukukan!!
Menuliskan "Metamorfosa Hidupku"

Hidup Penuh Resiko

hidup itu penuh resiko....jangankan yang besar besar..
yg kecilpun beresiko...

tidur pake kasur dan selimut resikonya itu kita harus bangun dan membereskan kasur juga melipat selimut setelah bangun

resikonya punya hati.. kadang dilanda asmara dan kadang sakit hati
resikonya makan baso yg enak, setelah makan baso kita harus merelakan 10 rb kita ada dilaci tukang baso..., ya kan?



---------------
*kie tulisane mas Arief el DamasQ yg sedang dilanda asmara...ck.ck,
gek ndang bikin blog dewe wae.... hahaa.....
bukunya tetep ditunggu yee....!! :)

Roda

Bayangkan ketika kita sedang bersepeda.... tau kan kalu kita pengen nyampe di suatu tempat yang musti kita lakukan adalah mengayuhnya. Ada satu bagian dari sepeda yang punya banyak sekali dapat kita ambil pelajarannya, yaitu roda! berfilsafat dengan roda!

Roda itu bentuknya bulat, owh bukan bulat ternyata..! tapi sesuatu yang melingkar, suatu lingkaran itu punya diameter! yahh....dari sini aku inget tentang ceritaku kemarin!

Jadi ceritanya itu, adalah sebuah misskomunikasi. Penyebabnya yaitu semakin jauhnya info dari sumber. Bingung ya...?? aku jga bingung mo menyampaikan, misalkan ada sebuah info dari A untuk B, B kasih tau ke C, C ke D dan seterusnya...ternyata info yang diterima oleh Z semakin jauh makna serta kebenarannya dari info yang sebenarnya, bisa berkurang bahkan juga bisa bertambah. Itulah....aku mengibaratkannya seperti sebuah roda.....Roda itu kalu dia semakin jauh dari pusatnya/porosnya maka diameternya pun akan semakin besar, begitu juga info! semakin jauh info dari sumbernya akan semakin besar ketidakvalidannya. hmm...... kemarin aku baru aja merasakannya!

Masih dengan RODA! Banyak orang mengibaratkan hidup bagaikan Roda yang berputar.

Roda mengajari kita sebuah kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Roda itu berputar, hidup kita pasti juga akan berputar. Ada kalanya kita berada di atas, namun ada pulanya kita berada di bawah.
--------------???????????????????????????????????????????????-------------------
lajutkan sendiri yaahh...


_________________
aduhhhhh, mo nulis apa lagi inihhhh?? aku lagi gag mood, malah munyer2 tulisane.....tak layak publish!!! hahaa..... :D

Jumat, 15 Juli 2011

Hadiah Terindah untuk Ibu dan Alm. Bapak

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?".

Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran."

Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)


-------------------------------

Ya Allah Swt rahmati untuk (dapat) meninggalkan maksiat kepada-Mu selamanya selagi engkau masih memberi kesempatan kepadaku. Kasihani diriku dari hal yang tak sanggup aku pikul. Karunialiah aku itikad baik dan ketertarikan kepada hal yang Engkau sukai. Teguhkan hatiku untuk menghafal kitab-Mu sebagaimana Engkau ajarkan kepadaku. Karuniailah aku untuk (dapat) membacanya sesuai yang Engkau sukai. Ya Allah dengan kitab-Mu terangilah penglihatanku, lapangkanlah dadaku, bahagiakan diriku, bebaskan (belenggu) lidahku, terapkanlah kepada badanku, kokohkanlah diriku atasnya dan bantulah diriku untuk hal tersebut, sesungguhnya tiada penolong untuk hal tersebut kecuali Engkau, tiada tuhan selain Engkau.

Rabu, 13 Juli 2011

Cinta Luar Biasa dari Laki-laki Biasa

Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa


MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadibukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan

Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik

nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan

keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya,toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.

Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.

Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan

laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah

menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.

Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.

Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.

Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.

Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal,hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi,dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.

Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,

telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,

dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.

Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.

Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang.

Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.

Anak-anak merindukan ibunya.

Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.

Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania.

Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.