Kamis, 23 Juni 2011

Kita Lihat Aja Nanti *

Kita memang tidak pernah punya jawaban yg pasti,
karena setiap orang berbeda pendapat
....dan juga keyakinan

Jadi...??

Jadi yaa......
Kita harus berani mengambil keputusan,
walaupun kita ga punya jawaban yg pasti
....atau kita akhiri
dua-duanya memang ga ada yg jelas buat kita

Sebenernya kita masih bisa terus sama-sama yaa....
tapi pasti banyak yg terluka
buat apa kita bahagia kalu banyak yg nangis??

kamu inget ga, kamu pernah bilang
jodoh itu Tuhan yang atur
Kita ga akan pernah tau hingga kita hidup dengan seseorang itu

"Kita lihat aja nanti.....!"

Sekarang aku setuju dengan kalimat "Kita lihat aja nanti...!"

Tapi, kita bakal ketemu lagi kan??
mungkin nanti di Surga.......

"Kita lihat aja nanti...!"

-------------------
*(dialog Rosyid dan Delia, dlm film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Minggu, 19 Juni 2011

Andeng-Andeng...^^


Pada tau kan andeng-andeng..??? kalu gag tau 'tahi lalat' dehh, pasti ngeh...

yupzz, mo nulis tentang itu ahh...

Blok ini aku uda belajar tentang KULIT, kemarin baru aja ujian setelah menikmati ratusan slide kuliah yg ngguilani tenant. Lha banyak gambar-gambar yg jijik dan menjijikkan....! hihii..... bgi yg sensistif, pasti langsung gag napsu makan, saking ngguilani. Tapi itu ilmu.....kita harus mempelajarinya.

Ngomong2 ttg andeng-andeng atau tahi lalat... menurut catatan kuliah saya, tahi lalat itu termasuk dalam Tumor lhohh...tapi tumor jinak, Eits jangan salah dulu, tidak semua tumor itu berbahaya, yang berbahaya itu tumor ganas namanya, tapi kalu tumor jinak 'punya' potensi untuk berubah jadi ganas. Tahi lalat itu nama kerennya di kedokteran 'naevus pigmentosus' hehee...tiap orang pasti punya yang namanya tahi lalat, ada yang di wajah, di tangan, di kaki, bisa tumbuh di mana aja dehh.

Jadi dalam tubuh kita itu ada yang namanya sel naevus. Selnya bulat, kromatinnya tidak padat, nukleulus tidak jelas serta sitoplasmanya sedikit dan mengandung pigmen melanin. Nah, tahi lalat ini asalnya dari sel2 naevus. Dia berasal dari neural crest, sel-sel ini membentuk sarang2 kecil pada lapisan basal epidermis dan pada zona taut dermo-epidermal. Sel-sel ini membelah dan masuk dermis dan membentuk sarang-sarang pada dermis.

Tahi lalat memiliki fase perkembangan yang diawali dengan berwarna agak gelap. Setelah fase tersebut, tahi lalat tersebut akan kemudian membesar, dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Berbagai bentuk yang sering ditemui adalah bentuk-bentuk oval atau bulat. Selain itu, tidak sedikit yang ditumbuhi rambut, selain yang polos. Dan dari warna yang ada, selain hitam, ada yang berwarna cokelat, dan merah muda.

Tumor jinak ini bisa berpotensi menjadi ganas lhohh....transformasi ini bisa terjadi jika tahi lalat berubah dengan ditandai dengan pembesaran, khususnya bila asimetris, perubahan warna, perubahan permukaan, terjadi penebalan, adanya nyeri dan tanda-tanda inflamasi. Seringkali perubahan menjadi ganas disebabkan karena iritasi berulang pada tahi lalat seperti sering tertekan, dipencet-pencet, lecet atau tergesek (misalnya tahi lalat di punggung oleh baju yang sempit). Selain itu gejala berbahaya lainnya adalah bila tahi lalat tersebut terus membesar bahkan sampai berdarah. Nah bila timbul gejala-gejala seperti itu, sebaiknya periksakan ke dokter karena tidak menutup kemungkinan berkembang menjadi kanker kulit yang ganas.

Salah satu jalan untuk menghilangkan tahi lalat adalah dengan operasi, atao bisa juga dengan menggunakan salep yg bisa membakar kulit (aku lupa namanya, tpi pernah baca). Tahi lalat sebaiknya diangkat atau dioperasi jika menimbulkan kecurigaan terjadi suatu keganasan.

Tapi ada juga seseorang minta tahi lalatnya diangkat hanya karena alasan kecantikan/kosmetis, misal tahi lalat gede di atas bibirnya, ato di pipi mungkin. Atau terkadang malah ada orang minta diangkat tahi lalatnya hanya karena secara fengshui kurang bagus. Misalnnya tahi lalat di bawah mata kurang bagus karena dianggap suka menangis, atau tahi lalat di tengkuk tidak bagus, karena akan menjadi beban, katanya tahi lalat di tengkuk bisnisnya bisa gag lancar, atau kalu di primbon tahi lalat di hidung itu orangnya banyak rezeki. Ck.ck...ini khurofat tingkat tinggi !!..... jadi kita gag perlu percaya, gag ada ceritanya tahi lalat bisa mengatur rezeki seseorang.ck.ck...

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud/11: 6)

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq/65:2-3)

Katakanlah, “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,” dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (QS Al Jumu’ah, 62:11)

Kamis, 16 Juni 2011

kewalahann

Semuga dipermudah segala urusan....^^


Ujian Bllok Skin 18 Juni 2011 -----> baca slide puolll....latihan soal

Sirkumsisi massal ----> bikin surat pemberitahuan buat TPA2 dan panti asuhan (hbs ujian), surat Pemberithuan ralat buad SD Bumi (besuk), permohonan obat ke delanggu (habis ujian), konfirm Lazis UMS

PMC ----> bikin LPJ, tapi nunggu laporan dulu dari bendahara

Workshop PKM --> sosialiassi ke KU (besuk), nyiapin materi, nyari pembicara, publikasi

PPA --> bikin proposal, nyari rekmendasi pemateri, nyiapin buad rapat besar panitia

Masta --> bikin konsep masta fakultas, all about masta (belum sempet ngobrol ma tmen2 pimpinan )

IMM --> LKMO ( kapan..???)

Mentoring ---> ngisi lembar penilaian, koreksi tugas mentee, ngumpulin kartu hapalan



Robbisrohlii shodryy wa yassirliy amriy wah lul-'uqdatamillisaani yafqohu qouliy....

Senin, 13 Juni 2011

Demam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam merupakan tanda utama penyakit yang paling tua dan paling umum diketahui serta paling sering terjadi di masyarakat.Demam adalah dimana suhu tubuh menjadi meningkat, namun masih dapat dikontrol dan mulai menimbulkan ketidaknyamanan fisik saat mencapai 39,5°C. Pertahanan tubuh manusia akan bekerja baik pada temperatur demam, dibandingkan dengan suhu normal. Demam juga akan memicu pertambahan jumlah leukosit, sehingga pertahanan tubuh untuk melawan mikroorganisme akan optimal pada saat tubuh demam.

Pada bab ini akan dibahas banyak tentang demam sebagai tanda awal suatu penyakit yang mempunyai beberapa peranan dalam tubuh manusia.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan demam?

2. Bagaimana mekanisme demam?

3. Bagaimana proses termoregulasi dalam tubuh?

4. Apa saja penyebab demam?

5. Bagimana fase-fase yag terjadi dalam demam?

6. Apa saja jenis-jenis demam?

7. Apa saja tipe-tipe demam?

8. Bagaimana penatalaksanaan pada demam?

9. Apa fungsi pemberian kompres dan obat dalam penanganan demam?

C. Tujuan

1. Mengetahui definisi demam

2. Mengetahui mekanisme demam

3. Mengetahui proses termoregulasi dalam tubuh

4. Mengetahui penyebab demam

5. Mengetahui fase-fase demam

6. Mengetahui jenis-jenis batuk

7. Mengetahui tipe-tipe demam

8. Mengetahui penatalaksanaan pada penderita demam

9. Mengetahui fungsi pemberian kompres dan obat dalam penanganan demam

D. Manfaat

1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi demam

2. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme demam

3. Mahasiswa mampu menjelaskan proses termoregulasi dalam tubuh

4. Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab-penyabab demam

5. Mahasiswa mampu menjelaskan fase-fase dalam demam

6. Mahasiswa mampu menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis demam

7. Mahasiswa mampu menyebautkan dan menjelaskan tipe-tipe demam

8. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan demam

9. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi kompres dan obat dalam penanganan demam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Demam

Demam (fever, febris) adalah kenaikan suhu tubuh di atas variasi sirkadian yang normal sebagai akibat dari perubahan pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior. Suhu tubuh normal dapat dipertahankan, ada perubahan suhulingkungan, karena adanya kemampuan pada pusat termoregulasi untuk mengatur keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh jaringan, khususnya oleh otot dan hati, dengan panas yang hilang terjadi peningkatan suhu dalam tubuh. Suhu oral normal adalah 35,8°C-37,3°C (96,5°- 99,2°F). Suhu rektal lebih tinggi sekitar 0,3–0,5°C (0,5°-1°F). (Juliana, 2008)

B. Termoregulasi Saat Demam

Bila demam timbul, maka mekanisme termoregulasinya mempertahankan suhu badan lebih tinggi dari normal, seolah-olah thermostat disetel ulang ke titik baru diatas 37°C. Kemudian reseptor suhu akan memberikan isyarat bahwa suhu tubuh sebenarnya berada dibawah set point dan akan mengaktifkan mekanisme peningkatan suhu sehingga terjadi demam. Suhu tubuh pada manusia adalah hasil akhir dari produksi panas oleh proses metabolik atau aktivitas obat dan kehilangan panas, dihantar oleh aliran darah ke struktur subkutan dan kutan, dan disebarkan oleh keringat. (Guyton, 2008)

C. Organ Termoregulator

Suhu tubuh dikendalikan oleh hipotalamus. Neuron-neuron pada hipotalamus anterior praoptik dan hipotalamus posterior menerima dua jenis sinyal, satu dari saraf perifer yang mencerminkan reseptor-reseptor untuk hangat dan dingin dan lainnya dari temperatur darah yang membasahi daerah ini. Kedua sinyal ini diintegrasikan oleh pusat termoregulasi hipotalamus untuk mempertahankan temperatur normal. (Juliana, 2008)

Pirogen merupakan substansi yang menyebabkan demam dan berasal baik dari eksogen maupun endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar hospes, sementara pirogen endogen diproduksi oleh hospes, pirogen umumnya sebagai reseptor terhadap stimulan awal yang biasanya timbul oleh karena infeksi atau inflamasi. Pirogen endogen yang dihasilkan baik secara sistemis atau lokal, berhasil memasuki sirkulasi dan menyebabkan demam pada tingkat pusat termoregulasi di hipotalamus. (Juliana, 2008)

D. Mekanisme Demam

Demam disebabkan oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak, atau dehidrasi. Banyak hasil pemecahan protein dan zat-zat tertentu seperti toksin lipopolisakarida yang disekresi oleh bakteri yang dapat menyebabkan titik setel termostat hipotalamus meningkat. Zat yang menyebabkan efek ini dinamakan pirogen. (Guyton, 2008)

Banyak agen yang menghasilkan demam pada manusia yang telah terbukti merangsang produksi pirogen endogen oleh leukosit-leukosit manusia in vitro.Seluruh substansi di atas menyebabkan sel-sel fagosit mononuklear-monosit, makrofag jaringan, atau sel Kupffer-membuat pirogen endogen. (EP= endogenous pyrogen) adalah suatu protein kecil (berat molekul 20.000) yang mirip interleukin 1, yang merupakan suatu mediator proses imun antar sel yang penting. Pirogen endogen telah diisolasi dari netrofil, eosinofil, monosit, sel Kupffer, makrofag alveoli dan sinovium. Pirogen endogen menginduksi demam melalui pengaruh pada area preoptik di hipotalamus anterior. (Juliana, 2008)

Pirogen endogen meningkatkan titik patokan termostat hipotalamus selama demam dengan memicu pengeluaran lokal prostaglandin, yaitu zat perantara kimiawi lokal yang bekerja langsung di hipotalamus. Hipotalamus kemudian mempertahankan suhu di titik patokan baru bukan di suhu tubuh yang normal. Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas (Sherwood, 2001).








Infeksi/Peradangan







Neutrofil


Pirogen Endogen

Mengeluarkan














Prostaglandin















Mengawali “Respon Dingin”










Demam


Gambar 1 : Terjadinya Demam (Sherwood, 2001)

E. Fase-Fase Demam

Fase-fase demam terbagi menjadi:

1. Fase Awal (Awitan)

a. Peningkatan denyut jantung

b. Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan

c. Menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot

d. Kulit pucat dan dingin karena vasokonstriksi

e. Adanya sensasi dingin

f. Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokontriksi

g. Rambut kulit berdiri

h. Peningkatan suhu tubuh

2. Fase Demam

a. Menggigil sudah lenyap

b. Tubuh terasa hangat dan panas

c. Merasa tidak panas atau dingin

d. Peningkatan nadi dan laju pernapasan

e. Dehidrasi ringan hingga berat

f. Hilang nafsu makan (demam memanjang)

g. Kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein.

3. Fase Pemulihan

a. Kulit tampak merah dan hangat

b. Berkeringat

c. Menggigil ringan

d. Kemungkinan mengalami dehidrasi

(Mims, 2001)

F. Tipe dan Jenis Demam

Beberapa tipe demam yang mungkin dijumpai antara lain:

1. Demam septik

Pada tipe demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.

2. Demam remiten

Pada tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam septik.

3. Demam intermiten

Pada tipe demam intermiten, suhu badan turun ke tingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana.

4. Demam kontinyu

Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

5. Demam siklik

Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

(Nelwan, 2007)

Jenis-jenis demam terdiri dari:

1. Demam Fisiologi, demam ini cenderung normal dan sebagai penyesuaian terhadap fisiologis tubuh, misalnya pada orang yang mengalami dehidrasi dan tingginya aktivitas tubuh (olahraga). (Sherwood, 2001)

2. Demam Patologis, demam ini tidak lagi dikatakan sebagai demam yang normal. Demam yang terjadi sebagai tanda dari suatu penyakit. Demam patologis terbagi lagi menjadi dua sebagai berikut:

a. Demam Infeksi yang suhunya bisa mencapai lebih dari 38°C. Penyebabnya beragam, yakni infeksi virus (flu, cacar, campak, SARS, flu burung, dan lain-lain), jamur, dan bakteri (tifus, radang tenggorokan, dan lain-lain).

b. Demam Non Infeksi, seperti kanker, tumor, atau adanya penyakit autoimun seseorang (rematik, lupus, dan lain-lain).

(Samuelson, 2007)

G. Penyebab Demam

Secara umum, penyebab demam adalah adanya infeksi. Akan tetapi, demam mempunyai daftar penyebab lain yang cukup panjang, termasuk racun, kanker, penyakit autoimun, dan lain-lain. Berikut sebagian kecil contoh penyebab demam:

a. Adanya infeksi seperti saluran kemih (sering buang air besar atau kecil disertai rasa pegal), infeksi streptokokus pada tenggorokan, dan abses gigi.

b. Infeksi mononukleosis disertai pegal.

c. Kelelahan karena perubahan suhu lingkungan yang terlalu panas.

(Mims, 2001)

H. Penatalaksanaan

1. Kompres hangat

Kompres dapat menyebabkan vasodilatasi perifer, sehingga panas tubuh dapat keluar melalui pori-pori kulit, baik dalam bentuk uap maupun keringat. Adanya pengeluaran panas ini diharapkan suhu tubuh dapat diminimalisir. (Davis dan Phair, 2004)

2. Terapi Antimikroba

Pasien-pasien yang mempunyai gejala klinis infeksi dapat dimulai dengan terapi antibiotik. Antibiotik spectrum luas juga diindikasikan pada pasien demam dengan potensi infeksi serius, sebelum bukti infeksius didokumentasikan.(Tierney, 2002)

3. Pengobatan dengan antipiretik, bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior. Contohnya adalah parasetamol, aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (ibuprofen).(Davis dan Phair, 2004)

BAB III

PEMBAHASAN

Pada scenario 3 blok Premedical Science in Pathological Setting ini akan membahas tentang demam, terkait mekanisme, penyebab serta penatalaksanaanya. Pada scenario disebutkan bahwa pada suatu pagi Dea, mahasiswi kedokteran semester satu, mengeluh demam dan menggigil. Demam merupakan suatu tanda penyakit tertua dan universal yang terjadi tidak hanya pada mamalia, tetapi juga dialami oleh burung, reptilia, amfibi, dan ikan.

Demam (fever, febris) adalah kenaikan suhu tubuh di atas variasi sirkadian yang normal sebagai akibat dari perubahan pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior. Suhu tubuh normal dapat dipertahankan, ada perubahan suhulingkungan, karena adanya kemampuan pada pusat termoregulasi untuk mengatur keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh jaringan, khususnya oleh otot dan hati, dengan panas yang hilang terjadi peningkatan suhu dalam tubuh. Suhu oral normal adalah 35,8°C-37,3°C (96,5°- 99,2°F). Suhu rektal lebih tinggi sekitar 0,3–0,5°C (0,5°-1°F).

Penyebab demam bermacam-macam, tetapi secara umum demam disebabkan adanya infeksi, sedangkan yang lainnya dapat disebabkan oleh racun, kanker, penyakit autoimun, dan lain-lain. Demam infeksi ini disebabkan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh, seperti jamur, bakteri,dan virus. Mikroorganisme ini masuk ke dalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin yang dikenal dengan pirogen eksogen. Dengan masuknya mikroorganisme tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya dengan sistem imun berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosis). Adanya fagositosis ini, sistem imun akan mengeluarkan zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus (sel penyusun hipotalamus) untuk mengeluarkan substansi asam arakhinodat yang dibantu oleh enzim fosfolipase A2. Asam arakhinodat akan memicu pengeluaran prostaglandin E2 dengan campur tangan dari enzim siklooksigenase (COX). Prostglandin selanjutnya akan mempengaruhi kerja dari hipotalamus karena hipotalamus yang berperan sebagai termostat (pengatur suhu). Hipotalamus yang akan mengetahui berapa suhu tubuh yang seharusnya dan akan mengirim pesan ke tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil dan senantiasa berada dalam batas normal. Di hipotalamus terdapat dua pusat pengaturan suhu, yaitu regio anterior diaktifkan oleh rasa hangat, sedangkan regio posterior diaktifkan oleh rasa dingin. Adanya gangguan pirogen endogen yang mengacaukan fungsi hipotalamus, menyebabkan hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh di atas normal sekitar di atas 37°C.

Demam yang dialami Dea adalah demam yang terus-menerus, tidak mengalami penurunan meski sudak diberikan penanganan berupa kompres dan obat. Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah kita bahas pada bab sebelumnya demam Dea ini termasuk dalam tipe demam kontinyu. Dalam penanganan yang telah dilakukan oleh Dea sebenarnya sudah tepat yaitu dengan kompres serta pemberian obat. Tetapi lebih baiknya kompres dengan air hangat. Fungsi kompres ini adalah menyebabkan vasodilatasi perifer, sehingga panas tubuh dapat keluar melalui pori-pori kulit, baik dalam bentuk uap maupun keringat. Adanya pengeluaran panas ini diharapkan suhu tubuh dapat diminimalisir. Obat yang paling tepat diberikan yaitu antipiretik, antara lain parasetamol, aspirin, ibufroten dan lain-lain. Tapi pada kenyataannya demam Dea tidak kunjung reda, hal ini mungkin disebabkan karena penanganan yang kurang tepat, seperti kompres yang diberikan berupa kompres dingin atau bias juga karena obat yang diminum tidak berupa obat antipiretik seperti yang dianjurkan untuk penanganan demam.

Pada saat Dea mengeluh demam dan menggigil, kakak tingkatnya diperiksa suhu tubuhnya menggunakan thermometer pada axillanya. Pengukuran suhu tubuh pada umumnya dapat dilakukan pada tiga tempat, yaitu oral, rectal dan axilla. Untuk orang dewasa pada umunya menggunakan pemeriksaan suhu axilla yang memiliki selisih 0,6 derajat Celcius lebih rendah daripada suhu oral. Hasil pemeriksaan yang didapat yaitu 39 derajat Celsius. Berdasarkan hasil tinjuan pustaka, suhu pada derajat ini termasuk dalam derajat demam, yang harus diberikan penanganan. Namun apabila penanganan yang telah dilakukan seperti yang telah dilakukan Dea tidak kunjung memberikan penurunan suhu, sebaiknya segera berobat ke dokter agar diberikan penanganan medis yang tepat sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Demam (fever, febris) adalah kenaikan suhu tubuh di atas variasi sirkadian yang normal sebagai akibat dari perubahan pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior.

2. Bila demam timbul, maka mekanisme termoregulasinya mempertahankan suhu badan lebih tinggi dari normal.

3. Pirogen merupakan substansi yang menyebabkan demam dan berasal baik dari eksogen maupun endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar hospes, sementara pirogen endogen diproduksi oleh hospes, pirogen umumnya sebagai reseptor terhadap stimulan awal yang biasanya timbul oleh karena infeksi atau inflamasi

4. Penyebab demam itu bermacam-macam, dapat disebabkan oleh infeksi, racun, kanker, penyakit autoimun, dan lain-lain.

5. Menggigil merupakan usaha tubuh untuk memproduksi panas lebih banyak, sedangkan vasokonstriksi perifer usaha untuk menghemat panas.

6. Tipe demam terdiri dari demam septik, demam remiten, demam intermitten, demam kontinyu, dan demam siklik.

7. Fungsi kompres pada penanganan demam yaitu dapat menyebabkan vasodilatasi perifer, sehingga panas tubuh dapat keluar melalui pori-pori kulit, baik dalam bentuk uap maupun keringat. Adanya pengeluaran panas ini diharapkan suhu tubuh dapat diminimalisir.

8. Obat yang digunakan dalam penanganan demam yaitu antipiretik yang dapat menghambat produksi prostaglandin, contohnya yaitu aspirin, parasetamol dan ibuprofen.

B. Saran

1. Sebaiknya kita menjaga kesehatan kita agar terhindar dari penyakit.

2. Mencegah penyakit lebih baik daripada mengobati

3. Sebaiknya kita tidak sembarang minum obat, tetapi harus sesuai resep dokter.

4. Jika terjadi demam segera lakukan tindakan yang dapat menurunkan demam, antara lain dengan melakukan pengompresan dan segera periksakan ke dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Davis, A.T dan Phair, J.P., 2004. The Biologic and Clinical Basis of Infectious by Shulman, Phai, Sommer. 4th ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Guyton & Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Juliana, D. 2008. Uji Efek Antipiretik Infusa Daun Asam Jawa (Tamrindus indica ) pada Kelinci Putih Jantan Galur New Zealand. Surakarta : FF UMS

Mims, C.A., 2001. The Pathogenesis of Infectious Disease. 4th ed. Jakarta: Salemba Medika.

Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC.

Samuelson, J. 2007. Buku Ajar Patologi oleh Kumar V., Cotran R.S., Robbins S.L. vol. 1. 7th ed. Jakarta: EGC.

Sheerwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : EGC

Nelwan. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI