Jumat, 03 Juni 2011

“PROBLEM BASED LEARNING SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN EFEKTIF MAHASISWA KEDOKTERAN”


PENDAHULUAN

Saat ini kurikulum yang dikembangkan oleh banyak institusi pendidikan dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Sehingga mahasiswa akan belajar untuk membangun pengetahuan, ketrampilan dan perilakunya berdasarkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang telah mereka miliki. Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan mahasiswa yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills). Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi sehingga dapat mencapai target kompetensi yang telah ditentukan.

Disamping pemenuhan kompetensi yang ada, khususnya mahasiswa kedokteran, mereka menghadapi beberapa persoalan yang muncul dalam pembelajaran ilmu kedokteran seperti: retensi ilmu yang rendah (ilmu yang dipelajari bukan dalam konteks penerapan, terpisah dari cabang ilmu lain); Kesulitan menerapkan ilmu untuk evaluasi dan pengelolaan pasien di klinik (kurang terlatih dalam pengelolaan klinis); ketertinggalan dari perkembangan ilmu. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka dibutuhkan suatu metode pembelajaran khusus yang dapat membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang harus mereka penuhi.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsil Kedokteran Indonesia

1. Pengertian

Konsil Kedokteran Indonesia Indonesia (KKI) merupakan suatu badan otonom, mandiri, non struktural dan bersifat independen, yang bertanggung jawab kepada Presiden RI. Mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.(KKI, 2006)

2. Tugas dan Wewenang

Konsil Kedokteran Indonesia bertugas melakukan registrasi dokter dan dokter gigi. Mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi. Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing.

Konsil Kedokteran Indonesia memiliki wewenang menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter gigi. Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi. Mengesahkan standar kompetensi. Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi. Mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi. Melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang dikenakan sanksi oleh organisasi profesi atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi. (KKI, 2006)

3. Standart Kompetensi Dokter

1. Komunikasi Efektif

2. Keterampilan Klinis

3. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

4. Pengelolaan Masalah Kesehatan

5. Pengelolaan Informasi

6. Mawas Diri dan Pengembangan Diri

7. Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien

(KKI, 2006)

B. Kurikulum Berbasis Kompetensi

1. Pengertian

Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah kurikulum yang diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat beru-bah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi cultural dan kompetensi temporal. (Sugianto, 2007)

Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi menurut Hall dan Jones (1976: 29) adalah "pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur". Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasiskan kompetensi.( Gja,Aal Mb, 2004)

2. Metode Pembelajaran dalam KBK

a. Metode Diskusi

b. Metode Penampilan

c. Metode Studi Mandiri

d. MetodePembelajaran Terprogram

e. Metode Simulasi

f. Metode Pemecahan Masalah

g. Metode Studi Kasus

h. Metode Tutorial

i. MetodeDeduktif

j. Metode Induktif

(Yamin, 2004)

C. Problem Based Learning

1. Pengertian

Problem Based Learning is an instructional method that challenges the students to ‘learn to learn’, working cooperatively in groups to obtain solutions to real world problem. (Amin Z and Eng K.H, 2003).

Problem Based Learning (PBL) adalah lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Yaitu, sebelum pebelajar mempelajari suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para pebelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut.

Penerapan metode Problem Based Learning ini merupakan suatu bentuk implementasi team learning dan personal mastery menuju suatu organisasi pembelajar

Problem Based Learning mempunyai tujuan :

1. Memahami konsep Pembelajaran Berdasarkan Masalah atau Problem Based Learning (PBL)

2. Mampu memahami langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah di tempat kerja

3. Menerapkan metode Problem Based Learning dalam team work di tempat kerja

(Pusdiklat, 2004)

2. Karakteristik dan Prinsip Pembelajaran

Problem Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut:

· Siswa menjadi pusat atau sebagai obyek yang secara aktif belajar pada proses pembelajaran

· Proyek-proyek yang direncanakan terfokus pada tujuan pembelajaran yang sudah digariskan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam kurikulum

· Proyek dikembangkan oleh pertanyaan-pertanyaan sebagai kerangka dari kurikulum (curriculum-framing question)

· Proyek melibatkan berbagai jenis dan bentuk assessmen yang dilakukan secara kontinyu (on going assessmen)

· Proyek berhubungan langsung dengan dunia kehidupan nyata.

· Siswa menunjukkan pengetahuannya melalui produk atau kinerjanya.

· Teknologi mendukung dan meningkatkan proses belajar siswa.

· Keterampilan berpikir terintegrasi dalam proyek.

· Strategi pembelajarn bervariasi karena untuk mendukung oleh berbagai tipe belajar yang dimiliki oleh siswa (multiple learning style).(Bahri, 2005)

Prinsip Pembelajaran Problem Based Learning :

· Membuat skenario

· Memprediksi pertanyaan

· Membuat jawaban

· Menetapkan TIU dan TIK

· Proses Belajar (Pusdiklat, 2004)

3. Landasan Filosofis Problem Based Learning

Landasan filosofis Problem Based Learning dapat digambarkan sebagai berikut:

(TOT fk uwks, 2007)

4. Pelaksanaan Proses Problem Based Learning

Pelaksanaan proses Problem Based Learning dengan menggunakan diskusi tutorial yaitu diskusi kecil antara mahasiswa dan dosen sebagai fasilitator. Tutorial dengan umpan skenario merupakan ujung tombak/penggerak utama Problem Based Learning.(Sukmadinata, 2005)

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Penetapan ketua dan sekretaris kelompok

2. Penegasan tujuan pembelajaran

3. Penalaran klinis melalui diskusi (“brain storming”)

- Penetapan masalah pokok & informasi kunci

- formulasi hipotesis kerja

- Pencarian informasi tentang penderita

(Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, Pemeriksaan Penunjang)

4. Identifikasi pengetahuan yang dibutuhkan

Mengidentifikasi dan mencatat pengetahuan apa saja yang kiranya perlu dimiliki untuk memecahkan masalah

Mengkompilasi dan mempformulasikan kebutuhan pengetahuan dalam bentuk pertanyaan

Mencari jawab pertanyaan dengan belajar mandiri

5. Pencarian informasi / belajar mandiri

Mahasiswa: memilih dan menentukan sumber ilmu yang memadai (textbook, artikel majalah ilmiah, internet, preparat histologi, kadaver, CD, mannequin, konsultasi pakar, dsb)

Mempelajari ilmu yang mereka butuhkan

Mengevaluasi kualitas sumber ilmu yang baru dipelajari

6. Penalaran klinis ulang melalui diskusi

7. Hipotesis akhir (mekanisme terjadinya masalah penderita)

(TOT fk uwks, 2007)

5. Metode Seven Jump

Pencapaian tujuan belajar dengan diskusi kelompok dengan menggunakan metode seven jump dengan langkah-langkah sebgai berikut :

1. Klasifikasi istilah

2. Penetapan problem

3. Analisis Masalah

4. Hipotesis (jawaban sementara)

5. Penetapan Learning Objektif

6. Menggali dan Mencari Informasi

7. Presentasi

(Sukmadinata, 2005)


PEMBAHASAN

Kurikulum yang dikembangkan saat ini oleh banyak institusi pendidikan kedokteran dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Sehingga mahasiswa kedokteran akan belajar untuk membangun pengetahuan, ketrampilan dan perilakunya berdasarkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang telah mereka miliki. Dalam proses belajar ini mahasiswa akan merasakan adanya suatu siklus pembelajaran yang akan mereka jalani. Mereka nantinya diharapkan akan memandang belajar itu bukan hanya untuk mencapai tujuan pembelajaran saja, akan tetapi mereka merasakan belajar itu sebuah proses bagaimana mereka belajar. Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan mahasiswa yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills).

Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi sehingga dapat mencapai target kompetensi yang telah ditentukan dalam hal ini kompetensi dasar yang harus dicapai oleh mahasiswa kedokteran harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia, yang merupakan suatu badan otonom, mandiri, non struktural dan bersifat independen, yang bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia, yang mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.(KKI, 2006)

Standart Kompetensi Kedokteran tersebut meliputi tujuh area : (1) Komunikasi Efektif; (2) Keterampilan Klinis; (3)Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran; (4) Pengelolaan Masalah Kesehatan; (5) Pengelolaan Informasi; (6) Mawas Diri dan Pengembangan Diri; (7) Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien. (KKI, 2006)

Disamping pemenuhan kompetensi yang ada, mahasiswa kedokteran menghadapi beberapa persoalan yang muncul dalam pembelajaran ilmu kedokteran seperti: retensi ilmu yang rendah (ilmu yang dipelajari bukan dalam konteks penerapan, terpisah dari cabang ilmu lain); Kesulitan menerapkan ilmu untuk evaluasi dan pengelolaan pasien di klinik (kurang terlatih dalam pengelolaan klinis); ketertinggalan dari perkembangan ilmu. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka dibutuhkan suatu metode pembelajaran khusus yang dapat membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang harus mereka penuh. Salah satunya yaitu pembelajaran dengan pendekatan Problem Based Learning.

Problem Based Learning menerapkan pembelajaran ilmu berorientasi pada masalah, secara terintegrasi dalam konteks klinis, menerapkan penerapan klinis (clinical reasoning) dalam metode pembelajarannya, serta mengintegrasikan proses evaluasi kemampuan diri dan proses identifikasi kebutuhan ilmu.

Problem Based Learning (PBL) dalam pelaksanaannya harus dipahami sebagai proses learning yang dirangsang / diprovokasi oleh masalah, sehingga disini perlu ditekankan bahwa dalam Problem Based Learning, masalah harus dirancang penuh makna dan diyakini betul-betul menjadi kebutuhan mahasiswa, demikian juga learningnya setelah mahasiswa menemukan masalah tersebut sebagai kebutuhan yang harus difasilitasi untuk menggali, mengeksplorasinya secara mandiri sampai tercapai target kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang ditetapkan.

Pelaksanaan pembelajaran sistem Problem based learning dilakukan dengan membentuk sebuah kelompok tutorial, yaitu diskusi kecil antara mahasiswa dan dosen sebagai fasilitator. Tutorial dengan umpan scenario merupakan ujung tombak/penggerak utama PBL. (Sukmadinata, 2005).

Diskusi tutorial dilakukan dengan menggunakan metode yang biasa disebut seven jump, yaitu terdiri atas tujuh langkah ((1) Klasifikasi istilah; (2) Penetapan problem; (3) Analisis Masalah; (4) Hipotesis (jawaban sementara); (5) Penetapan Learning Objektif; (6) Menggali dan Mencari Informasi; (7)Presentasi) (Sukmadinata, 2005)

Pelaksanaa tutorial ini dilakukan 2 kali pertemuan untuk tiap skenario. Pertemuan pertama yaitu pelaksanaan langkah ke 1-5 pada seven jump, kemudian untuk pertemuan kedua yaitu pelaksanaan langkah ke-7 pada seven jump. Untuk langkah ke-6 dilakukan secara mandiri yaitu pencarian sumber-sumber informasi untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya.

Dalam metode Problem Based Learning ini, pemahaman, transfer pengetahuan antar anggota kelompok tutorial, ketrampilan berfikir kritiis, kamampuan pemecahan masalah, dan kemampuan komunikasi ilmiah menjadi dampak langsung dari pembelajaran. Hal ini sangat sesuai untuk mahasiswa kedokteran, karena metode seperti ini lebih sesuai dengan fenomena yang akan dihadapi oleh mahasiswa kedokteran, khususnya ketika mereka sudah menyandang profesi dokter. Selain itu metode seperti ini akan lebih memperkenalkan mahasiswa dengan problem-problem klinik sehingga dapat menanamkan motivasi kepada para mahasiswa kedokteran untuk berlatih lebih awal tentang analisis problem

Kesimpulan

1. Konsil Kedokteran Indonesia adalah badan otonom yang salah satu tugasnya yaitu mengesahkan Standart Kompetensi Dokter.

2. Standart Kompetensi Dokter meliputi tujuh area, yaitu (1) Komunikasi efektif; (2) Ketrampilan Klinis; (3) Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran; (4) Pengelolaan Masalah Kesehatan; (5) Pengelolaan Informasi; (6) Mawas Diri dan Pengembanagn Diri; (7) Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien.

3. Kurikulum saat ini yang diterapkan oleh banyak institusi pendidikan di Indonesia adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi.

4. Kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan.

5. Dalam melaksanakan studinya mahasiswa kedokteran pun dituntut untuk memiliki kemampuan yang memenuhi standart Kompetensi yang telah di tentukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia.

6. Dalam mencapai Standart Kompetensi Dokter metode yang digunakan yaitu Problem Based Learning (suatu proses pembelajaran yang diawali dari masalah-masalah yang ditemukan dalam proses belajar).

7. Metode Problem Based Learning dapat diaplikasikan dalam bentuk diskusi tutorial yang teknisnya menggunakan cara seven jump



Referensi

Amin Z and Eng K. H. 2003. Basic in Medical Education. Singapore : World Scientific Co. Pte. Ltd.

Yamin, Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

http://library.um.ac.id/index.php/Artikel-Jurnal-Perpustakaan-Sekolah/kurikulum-berbasis-kompetensi-implikasinya-dalam-peyelenggaraan-perpustakaan-sekolah.html

http://www.ditpertais.net/swara/warta18-05.asp

http://www.lrckesehatan.net/cdroms_htm/pbl/pbl.htm

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Sistem%20Pembelajaran%20Abad%2021%20dengan%20%3CQ%3EProject%20Based%20Learning%20(PBL)%3C/Q%3E&&nomorurut_artikel=252

http://www.kopertis4.or.id/Pages/Metode%20Pembmodern.kop4.ppt

Idealisme Mahasiswa Kedokteran

(Repost arsip lama : 8 Januari 2011) ^^

Pergerakan mahasiswa merupakan sebuah pergerakan yang terlahir dari pemikiran kritis intelektual muda yang mempunyai daya dobrak tinggi. Tercatat dalam sejarah bahwa pergerakan mahasiswa berhasil menumbangkan pemerintahan orde baru, sehingga lahirlah reformasi. Reformasi 1998 menjadi saksi kedahsyatan efek yang ditimbulkan dari pergerakan mahasiswa. Tidak hanya itu, perubahan kebijakan pemerintah yang dipandang tidak prorakyat berawal dari kekritisan mahasiswa serta peranannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Lebih mengerucut lagi, mari kita kembali menilik sejarah, melihat pergerakan mahasiswa kedokteran dalam peranannya sebagai sentra pergerakan mahasiswa yang prorakyat.

School Tof Opleiding van Indische Artsen atau STOVIA, adalah sebuah sekolah kedokteran yang menjadi saksi sejarah pencatat perjuangan mahasiswa kedokteran dalam upaya membangun semangat kebangkitan nasional. Pada saat itu, mahasiswa kedokteran menjadi pelopor semangat kebangkitan nasional, berhasil menunjukkan jati diri sesungguhnya sebagai pergerakan mahasiswa terdepan yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Prestasi yang membanggakan!!!

Dari catatan sejarah yang menorehkan tinta emas peranan mahasiswa kedokteran, sekarang mari kita melihat realita yang ada saat ini. Jika kita menghitung berapa jumlah mahasiswa kedokteran yang masih peduli atau hadir dalam diskusi masalah kepentingan rakyat, mungkin jari dua tangan masih tersisa untuk menghitungnya, dengan alasan mereka disibukkan dengan jadwal kuliah, praktikum, belajar, tugas laporan dan sebagainya. Berapa banyak dari mereka yang masih ngeh dengan isu-isu nasional? bahkan mungkin ketika ditanya pendapat mereka tentang permasalahan-permasalahan kesehatan di Indonesia, masih juga ada yang bersikap tidak tahu ataupun malah tidak mau tahu. Terkesan bahwa mahasiswa kedokteran memiliki analisis yang tumpul terhadap polemik dan dinamisasi kebijakan-kebijakan kesehatan atau seolah-olah bersikap apatis terhadap keadaan sekitar. Jangan sampai apatisme ini meruntuhkan idealism mahasiswa kedokteran yang dahulu dipandang memiliki idealisme tinggi dan nyaris sempurna. Tentunya kita tidak boleh hanya membanggakan sejarah saja, tetapi bagaimana kita bisa melanjutkan prestasi yang sempat ditorehkan tersebut sehingga kita bisa mengembalikan nilai idealism mahasiswa kedokteran serta peranannya sebagai sentra pergerakan mahasiswa prorakyat.

Apa yang terjadi dengan mahasiswa kedokteran saat ini? Seolah-olah telah terjadi degradasi nilai idealisme serta peran mahasiswa kedokteran. Bahkan banyak mahasiswa lintas fakultas yang meyakini bahwa mahasiswa kedokteran cenderung bersifat apatis, egois, ekslusif, sukar bergaul, hedon, nonorganisatoris, study oriented dan introvert. Lebih dari itu, merebaknya stigma dari masyarakat bahwa pelayanan kesehatan semakin hari semakin mahal tanpa meningkatnya pelayanan kesehatan dari para pelayan kesehatan, juga menimbulkan stigma yang buruk terhadap mahasiswa kedokteran. Mahasiswa kedokteran seakan-akan dipandang merencanakan pengeksploitasian dana masyarakat dalam rangka mengembalikan dana yang habis dalam proses pendidikan dokter. Na’udzubillah…

Melihat realita yang ada, para mahasiswa kedokteran kini tidak hanya dari kaum intelektual saja, tetapi siapapun yang bisa membayar sesuai kesepakatan dapat diterima di fakultas ini. Padahal di universitas kita ini terkhusus, dari segi inputnya, secara intelektual, mahasiswa kedokteran sama dengan mahasiswa FKIP progdi PGSD, hal ini dilihat dari tingkat grade nilai standar ujian test masuk keduanya sama, bahkan lebih tinggi progdi PGSD. Namun yang timbul bahkan adalah suatu kebanggaan karena telah berstatus kuliah di fakultas yang “elite” Fakultas Kedokteran, gedung yang megah, peralatan yang mahal, bahkan sempat disorot juga toilet yang mewah, serta kendaraan yang mereka miliki seolah memberikan gambaran gap mereka dengan kehidupan sosial yang ada. Dari pemikiran yang melenceng serta rasa kebanggaan yang berlebihan karena bisa masuk Fakultas kedokteran sangat disayangkan bila efek yang timbul adalah kondisi mahasiswa dengan sikap acuh tak acuh dengan lingkungannya, selalu berfikir bagaimana bisa lulus dengan cepat, menjadi dokter dan memikirkan bagaimana cara mengembalikan modal pendidikannya, mereka lupa akan idealism awal mereka. Mereka lupa bahwa sejatinya Fakultas kedokteran adalah bengkel pencetak calon-calon dokter yang dipersiapkan khusus untuk mengabdi pada bangsanya.

Terlepas dari itu, sistem kurikulum yang dipakai pada hampir seluruh fakultas kedokteran di Indonesia adalah sistem PBL atau Problem Based Learing, yang merupakan kurikulum yang berpusat pada mahasiswa(student centered), sehingga mahasiswa dituntut aktif dalam pembelajaran. Yang timbul sekarang adalah mahasiswa yang hanya berkutat pada diktat kuliah, slide dosen, mengejar kompetensi. Tuntutan-tuntutan ini sedikit banyak mempengaruhi idealism mahasiswa, mahasiswa selanjutnya hanya menjadi buruh-buruh intelektual atas nama kompetensi. Demi kompetensi, seluruh energi dan perhatian mahasiswa terfokus ke akademik dan hanya sedikit mahasiswa yang sadar peran serta fungsi mahasiswa sebagai agent of social control , agent of change dan moral force. Memang tidak ada yang salah dengan sistem ini, namun mari kita kaji lagi jika hal ini kita kaitkan dengan peran mahasiswa. Lagi-lagi jangan sampai kita menjadi korban sistem.

Kegiatan kemahasiswaan yang ada hendaknya berdasarkan kebutuhan masyarakat terkini, misalnya kebutuhan kesehatan yang murah pada orang miskin, atau permasalahan kesehatan masyarakat lainnya, bahkan perlu juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang memberatkan rakyat kecil dalam bidang kesehatan misalnya. Namun saat ini, kajian-kajian mengenai permasalahan kesehatan masyarakat tersebut telah bergeser menjadi teknis kegiatan insidental. Dan output dari kegiatan-kegiatan yang insidental menjadikan lembaga kemahasiswaan kedokteran hanya sebagai event organizer saja dan bukan merupakan basis pembentukan karakter kepribadian layaknya mahasiswa yang ideal.

Penjabaran kondisi objektif diatas merupakan pengamatan serta pengalaman sehari-hari. Tidak bermaksud untuk menggambarkan sesuatu yang hiperbola, namun kiranya hal ini bisa menjadi trigger bagi mahasiswa kedokteran khususnya, dan mahasiswa pada umumnya untuk berbenah diri agar tidak termasuk dalam mahasiswa apatis. Berupaya untuk mengembalikan dan mencegah pergeseran nilai idealisme mahasiswa dengan harapan dapat mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa kedokteran sebagai sentra pergerakan mahasiswa yang peduli dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Mari kita ubah stigma-stigma yang muncul atas diri mahasiswa kedokteran yang dikatakan bersifat apatis, egois, ekslusif, sukar bergaul, nonorganisatoris, study oriented dan introvert menjadi mahasiswa kritis, berfikir idealis, cerdas, berkarakter pejuang, mahasiswa kedokteran yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Kita buktikan bahwa kita bisa mengembalikan idealisme yang dulu membuat mahasiswa kedokteran sempat menjadi yang terdepan. Menyusunnya kembali sebagai pelindung moral, menyatukannya menjadi kekuatan besar dan mengembalikan citra mahasiswa kedokteran. Sehingga nantinya pergerakan mahasiswa kedokteran kembali menjadi sentra pergerakan mahasiswa yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat. Mewujudkan biaya kesehatan murah, distribusi Jaminan kesehatan masyarakat miskin tepat sasaran dan meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga dapat terwujud Indonesia Sehat. Hehee…Semangat buat para calon dokter!!! ^,^

Menemukannya kembali...!!

Alhamdulillahhh.....di otak-atik sana sini, akhirnya blog ini bisa kebuka juga..!

2008 mulai dibikin dan ditelantarkan begitu sajja, gag keurus....hohooo, iya sihh gara2 bikinnya juga gag niat alias iseng.
sekarang ketemu lagi dehh ama my Fortune...hhiihiii...:)

-------
*ini postingan pertama setelah sekian lama menghilang :-D